Views: 1
“11 Tahun Hidup dengan HIV, Devi di Hadapan 437 Mahasiswa UNIMUTU: “Saya Harus Berdamai dengan Diri Sendiri”
BINTUNI, inspirasipapua.id — Sekilas tidak ada yang berbeda dari Devita W. Lisa. Perempuan yang akrab disapa Devi itu berdiri di atas panggung, berbicara di hadapan 437 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Teluk Bintuni (UNIMUTU).
Ia tampak sehat. Tubuhnya bahkan memiliki berat sekitar 85 kilogram.
Namun, ada satu hal yang kemudian membuat suasana ruang Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) UNIMUTU Angkatan II Tahun Akademik 2026/2027 itu berubah. Devi mengungkapkan bahwa dirinya hidup dengan HIV selama 11 tahun.
“Apakah saya yang berdiri di atas panggung ini terlihat seperti orang dengan HIV?” tanya Devi kepada para mahasiswa.
Serentak mahasiswa menjawab tidak.
Devi kemudian melanjutkan pertanyaan. Apakah dirinya terlihat sehat?
Jawabannya kembali sama. Ya.
Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk bagi Devi untuk membongkar salah satu pemahaman yang masih melekat di masyarakat: bahwa orang dengan HIV harus terlihat sakit, kurus atau lemah.
Devi adalah salah satu orang dengan HIV yang tetap menjalani kehidupan, bekerja dan beraktivitas seperti masyarakat lainnya. Ia juga aktif sebagai penggiat HIV/AIDS dan bekerja di Yayasan Papua Lestari, lembaga yang bergerak dalam penanganan HIV.
“Orang yang hidup dengan HIV bisa tetap sehat seperti warga masyarakat lainnya,” kata Devi di hadapan mahasiswa.
Menurut dia, kondisi fisik seseorang tidak dapat digunakan untuk mengetahui apakah seseorang hidup dengan HIV atau tidak. Karena itu, pengetahuan dan pemeriksaan kesehatan menjadi jauh lebih penting daripada menilai seseorang berdasarkan penampilan.
Dari kesaksian itu, rasa penasaran mahasiswa mulai muncul. Diskusi berlangsung interaktif. Beberapa mahasiswa bertanya apakah nyamuk dapat menularkan HIV, bagaimana seseorang dapat bertahan hidup selama 11 tahun dengan HIV, hingga bagaimana perasaan seseorang ketika pertama kali mengetahui dirinya terinfeksi.
Devi menjelaskan, HIV tidak ditularkan melalui gigitan nyamuk maupun kontak sosial biasa. Penularan terjadi melalui paparan cairan tubuh tertentu yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu dalam kondisi tertentu.
Ia juga menjelaskan bahwa HIV sampai saat ini belum memiliki obat yang menghilangkan virus dari tubuh, tetapi terapi antiretroviral atau ARV dapat menekan perkembangan virus sehingga orang dengan HIV dapat menjalani kehidupan yang sehat dan produktif.
Bagi Devi, perjalanan menuju kondisi tersebut tidak mudah.
Ia mengetahui dirinya terinfeksi HIV pada 2015. Saat itu, ia mengaku mengalami guncangan psikologis yang berat. Sebagai seorang ibu rumah tangga, kabar tersebut membuatnya bingung, stres dan tidak tahu harus mengadu kepada siapa.
Ia mulai menjalani pengobatan ARV. Pada masa awal pengobatan, Devi mengaku mengalami efek samping obat sekaligus tekanan psikologis yang berat. Ia bahkan sempat mengurung diri dan mengalami depresi.
“Waktu itu saya sangat stres. Saya tidak tahu harus bagaimana dan mengadu ke mana,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, dukungan orang-orang di sekitarnya menjadi penting. Salah satu sosok yang menurut Devi terus mendorongnya untuk bangkit dan berani berbicara tentang HIV adalah penggiat HIV/AIDS Papua Barat, Everdina Y. Wanggai.
Perlahan Devi belajar menerima keadaan dirinya.
Ia menyadari, sebagian ketakutan yang dirasakan bukan berasal dari perlakuan orang lain, melainkan dari pikirannya sendiri. Ketika seseorang memandangnya, misalnya, Devi mengaku sempat berpikir bahwa orang tersebut telah mengetahui status HIV-nya dan akan memberikan stigma.
Pikiran seperti itu membuat hidupnya semakin berat.
Namun, waktu mengajarkannya untuk berdamai dengan diri sendiri.
“Saya tidak boleh kalah dengan virus HIV. Saya harus bangkit,” katanya.
Menurut Devi, menerima diri sendiri menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia tidak ingin HIV menjadi alasan untuk berhenti bekerja, berhenti beraktivitas atau menyerah terhadap masa depan.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak ikut memperkuat stigma terhadap orang dengan HIV.
“Orang dengan HIV bukan akhir atau penyetop kehidupan,” ujarnya.
Bagi Devi, stigma justru dapat membuat orang dengan HIV semakin takut memeriksakan diri dan menjalani pengobatan. Karena itu, pengetahuan tentang HIV harus dibangun berdasarkan fakta, bukan mitos dan prasangka.
Di hadapan mahasiswa UNIMUTU, Devi kemudian menyampaikan lima pesan.
Pertama, HIV bukan aib dan bukan penyakit kutukan. Seseorang yang terinfeksi HIV tidak otomatis merupakan orang yang buruk. Karena itu, mahasiswa diminta mempelajari HIV dan ikut melindungi sesama.
Kedua, pencegahan harus dimulai dengan mengenali cara penularan HIV. Pengetahuan tersebut diperlukan agar seseorang mampu melindungi dirinya sendiri maupun orang yang dicintai.
Ketiga, keputusan yang bijak dapat melindungi masa depan. Devi mengajak mahasiswa berhati-hati dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri.
Keempat, pendidikan menjadi salah satu cara untuk membedakan fakta dan mitos. Mahasiswa diminta memahami informasi yang benar tentang HIV sehingga tidak membangun ketakutan berdasarkan informasi yang keliru.
Kelima, masa depan yang sehat dimulai dari diri sendiri.
Pesan tersebut menjadi penutup kesaksian Devi dalam kegiatan Mastama. Bagi 437 mahasiswa baru UNIMUTU, kisah seorang perempuan yang telah hidup dengan HIV selama 11 tahun itu bukan sekadar cerita tentang penyakit.
Ia adalah pelajaran tentang penerimaan diri, keberanian, kesehatan mental, pengobatan, sekaligus bagaimana stigma dapat menjadi beban yang tidak terlihat.
Devi membuktikan satu hal melalui pengalamannya: status HIV tidak menghapus hak seseorang untuk hidup sehat, bekerja, belajar, berkarya dan menatap masa depan.
“Pahami fakta, cegah ketakutan. Pahami HIV dan cegah penularannya.
**(Tim/red/muris/inspirasipapua.id)**













